Senin, 08 Februari 2016

Profil Sintua Jafar Hutajulu

Pengantar

Tidak mudah bagi seseorang untuk menorehkan perjalanan hidup orang yang dikasihinya meskipun niat untuk itu selalu muncul. Ada yang berpikir buat apa orang lain mengetahui kisah hidupnya, toh tidak ada sesuatu yang menarik dan berguna, apalagi orang yang akan ditulis bukan pejabat, bukan pembesar, bukan professional dan bukan seorang pahlawan yang telah berjasa bagi daerah, bagi bangsa, dan bagi negara. Sebesar apapun kenangan kita bagi hidup seseorang, didalamnya pasti ada kekurangan dan kelebihan. Tergantung kepada penilaian masing-masing dan pola hubungan interaksi yang pernah terjadi dan kepentingan yang mendasari pola hubungan tersebut.

Perjalanan hidup anak manusia tidak ada yang sempurna dan masing-masing membawa peran sesuai dengan talenta dan kemampuan yang telah Tuhan anugerahkan. Talenta dan kemampuan itulah yang dapat dimaksimalkan seseorang dalam hidupnya sehingga membuat hidup seseorang berbeda dengan yang lainnya.

Namun apapun yang kita pikirkan tentang perjalanan hidup seseorang, hidup manusia ada batasnya. Di dalam keterbatasan itulah kita mencoba melihat peran yang telah dilakukannya apakah memiliki kehidupan yang berdampak bagi orang lain minimal bagi orang yang pernah mengenal dia semasa hidupnya. Yang pasti, ketika kita mencoba merefleksikan hidup seseorang, di dalamnya bisa terdapat prinsip, filosofi, teladan yang mungkin berguna bagi generasi selanjutnya.

Demikianlah, kami ingin menorehkan sekelumit tentang kehidupan orang tua yang kami kasihi, Sintua Jafar Hutajulu yang telah pergi ke Rumah Bapa di Sorga, Jumat, 5 Juni 2009 pukul 17.05 wib dalam usia 80 tahun dari rumah kediamannya di Jalan Horas 106 Sibolga.

Mungkin bagi Anda yang tidak mengenalnya, tidak salah jika Anda meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Sekali lagi, tulisan ini bukan kisah orang besar tapi kisah hidup orang biasa yang berdampak luar biasa bagi kami keluarga yang ditinggalkannya. Kepada Anda semua, barangkali ada benang merah yang dapat Anda tarik dari perjalanan hidupnya. Silahkan. Dan bagi Anda yang mengenalnya secara dekat atau sekilas dan mungkin sudah lama tidak bertemu atau berkomunikasi dengannya (berpisah oleh karena waktu dan tempat), Anda tinggal menikmati kisah ini dan sesekali mencoba membayangkan, merenung ulang tentang gaya, sikap, karakter dan penampilannya sehingga Anda bisa merajut kembali gambar yang utuh tentang dirinya, semasa hidupnya.

Masa Kecil dan Profesi

Sintua Jafar Hutajulu, dilahirkan, 18 Agustus 1929, di Lumban Bagasan, sebuah desa kecil di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (dulu sebelum pemekaran, masuk wilayah Tapanuli Utara). Masa kecilnya dihabiskannya di desa ini membantu orangtuanya sebagai tani dan membubu ikan di pinggiran Danau Toba.

Masa mudanya sampai usia 75 tahun, Sintua Jafar Hutajulu berprofesi sebagai Tukang Kayu di daerah Kota Beringin, Sibolga, atau tepatnya di Jalan Pelabuhan No 6 Sibolga (Belakang Kantor CPM atau di depan Philemon Bin Harun Siregar). Awalnya usaha pertukangan kayu ini diberi nama : Toekang Kayoe “Oebaya” atau “Ubaya”, (sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia waktu itu) , dan pada era 70-an sempat beberapa tahun beriklan di RRI Sibolga.

Mendisiplin Anak, Bekerja Sambil Berdoa

Di usaha pertukangannya ini, Sintua Jafar Hutajulu, selalu dibantu oleh minimal dua orang karyawan. Selebihnya ia dibantu oleh anak-anaknya. Setiap anak-anaknya laki-laki sejak duduk dibangku kelas 3 SD, sepulang sekolah sudah diwajibkan untuk membantu usahanya. Dimulai dari pekerjaan ringan seperti menjemur papan, memotong dan membelah papan, mengetam, mengamplas, mengecat sampai membuat kursi, meja dan lemari. Pekerjaan seperti itu secara rutin diwajibkan bagi anak-anaknya sampai sekolah lanjutan Atas (SLTA). Ia mengajarkan dan mendisiplin anak-anaknya untuk menggunakan waktu dengan baik meski mereka sedang berstatus sebagai pelajar. Ia membekali anak-anaknya dengan keterampilan usaha bertukang kayu tapi tidak berharap anak-anaknya meneruskan jejaknya sebagai tukang kayu.

Empat dari lima orang anaknya laki-laki ( Leonardo Olaf Partungkolan Hutajulu, kelas 3 SD sudah tinggal dengan kakeknya di Tarutung) harus merelakan waktu bermainnya hilang karena mereka harus bekerja mulai pukul 13.00 sampai pukul 18.00 wib. Meski berat pada waktu itu, tidak ada pilihan, semua anaknya patuh dan taat. Tidak hanya bekerja membantu usaha, anak-anaknya juga harus membantu di rumah seperti menyapu, mengepel, memasak air dan nasi. Pada tahun 70-an, di daerah mereka tinggal (di Sambas), air agak sulit. Pukul 05.00 pagi, mereka harus membantu ibunya mencuci pakaian di Kolam (Aek Habil). Sore harinya seusai makan malam anak-anaknya membawa piring, mangkok, panci, dll ke sumur pompa di Jalan 2. Mereka menjunjung baskom besar berisi piring, mangkok, panci,dan periok di atas kepala untuk dicuci, padahal waktu itu sebagian mereka telah menginjak remaja. Tidak ada pemberontakan atau kata sungut-sungut.

Semua aktivitas anak-anaknya berjalan seperti sudah terprogram. Sekitar pukul 19.00 atau pukul 20.00 (tergantung selesai tugas rumah tangga), anak-anaknya semua sudah harus duduk kembali di meja makan untuk doa bersama. Semua harus ikut. Sintua Jafar Hutajulu, memimpin nyanyian dan membaca renungan singkat. Satu per satu anak-anaknya harus mengucapkan doa masing-masing. Lalu ditutup dengan doa syafaat yang dipimpin oleh Sintua Jafar Hutajulu. Kegiatan ini setiap hari wajib mereka ikuti dan setelah acara doa bersama kemudian harus belajar.

Hampir tidak ada waktu untuk bermain. Kalaupun bisa bermain dengan teman harus sudah terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan dan tugas-tugas rumah tangga. Ke sekolah tidak ada uang jajan dan sebelum berangkat harus sudah sarapan di rumah. Uang jajan hanya diberikan ala kadarnya dan itupun hanya pada hari Minggu. Syaratnya untuk mendapatkan uang jajan pun harus mengikuti sekolah minggu atau ibadah Minggu di gereja.

Pada waktu Natal dan Tahun Baru, anak-anak dibelikan baju baru dan sepatu baru karena harus mengikuti liturgy (pajojorhon) di gereja. Baju dan sepatu yang dibeli juga diusahakan yang sekalian bisa dipakai untuk ke sekolah. Jadi tidak perlu pengeluaran untuk beli baju sekolah. Baju dan celana dijahitkan pada tukang jahit (Tailor). Untuk urusan sepatu biasanya rumit karena menyangkut ukuran sehingga anaknya harus dibawa ke toko. Ibu mereka akan mengukur kaki anak-anaknya dengan tali atau lidi dan biasanya ukurannya dilebihkan supaya tidak cepat sempit atau bisa digunakan adiknya kelak. Semua sepatu yang dibeli biasanya longgar karena akan diwariskan kepada adiknya. Ketika dipakai dan terasa longgar maka ujungnya diganjal dengan kaos kaki atau kain perca.

Pola hidup prihatin dan hemat seperti ini sejak dini sudah ditanamkan oleh Sintua Jafar Hutajulu dan Elsyeria Tobing kepada anak-anaknya. Entah benar apa tidak, anak-anak tidak dibawa ke pasar untuk mengukur sepatunya karena kuatir di sana anak-anak akan minta jajan seperti makan atau minum es sehingga bila semua anaknya dibawa maka akan menambah pengeluaran. Untuk menambah penghasilan, pernah juga ibu mereka membuka toko kelontong di Pasar Lama (sekarang areal perkantoran DPRD Sibolga) namun tidak lama toko tersebut tutup sebab tidak mungkin berjualan sambil mengurus anak-anak.

Oleh karena sulitnya kehidupan pada masa itu, dengan jumlah anak 7 (tujuh) orang, tidak ada cara lain bagi Sintua Jafar Hutajulu untuk mempersiapkan masa depan anak-anaknya kecuali dengan penerapan pola hidup sederhana dan pendisiplinan. Apalagi lingkungan (daerah Pelabuhan Sambas) dimana mereka berdomisili adalah daerah pantai dengan mata pencaharian utama nelayan. Adalah hal yang biasa pada masa itu jika anak-anak pergi ke tangkahan memungut sisa-sisa ikan dari kapal pukat dan memecahkan es batu (istilah Sibolga : mancacah) untuk mendapatkan uang. Itulah sebabnya banyak anak-anak di lingkungan Pelabuhan Sambas tidak melanjutkan pendidikan dan harus drop-out karena sudah terbiasa mendapatkan uang dan akhirnya menjadi nelayan. Ironisnya banyak anak yang seharusnya masa usia sekolah bekerja sebagai nelayan dan malamnya minum-minum alkohol dan mabuk-mabukan. Pada masa itu di daerah Pelabuhan Sambas marak kedai yang menjual minuman keras disertai acara joget dan disco dengan suguhan wanita penghibur.

Pada masa penerapan disiplin bagi anak-anaknya tidak jarang keluarga ini mendapatkan cemohan. Saat mereka berdoa, dinding rumah mereka dipukul-pukul. Di teras rumah mereka ditaruh kotoran dan sampah. Isteri Sintua Jafar Hutajulu, yaitu Elsyeria Tobing adalah seorang ibu rumah tangga yang rajin dan pembersih. Tidak jarang teman anak-anaknya yang datang bermain disuruh pergi (diusir) karena kuatir mereka hanya ribut dan membuat kotor halaman dan teras rumah. Kebersihan rumah menjadi trade mark keluarga ini, sampai-sampai orang berceloteh bahwa lantai rumah mereka bisa dijilat.

Pakaian anak-anak pun terlihat bersih dan semua rapi diseterika. Masa kecil semua anak-anak memakai baju bodoh yang terbuat dari kain sela. Pakaian-pakaian ini harus dikelantang terlebih dahulu dengan cara dijemur di atas batu, kemudian digosok-gosokan ke batu (bukan disikat) atau istilahnya “dibarbar”. Sebelum dijemur pakaian putih dikanji terlebih dahulu. Cara mencuci seperti ini memang tidak lazim karena membuat pakaian cepat robek. Kalau pakaian sampai robek tetap masih bisa digunakan karena ibu mereka terampil menggunakan mesin jahit dengan cara “mandukkap”. Pola mencuci pakaian seperti itu tidak pernah berubah, sampai-sampai batu besar sebagai sarana mencuci dibawa oleh ibu mereka dari Sarudik dan ditaruh di rumah mereka.

Mendambakan Sebuah Rumah Kecil

Sampai tahun 1974, Sintua Jafar Hutajulu masih mengontrak rumah. Rumah kontrakan itu tidak jauh dari rumah yang sekarang, di Jalan Horas No 92, rumah milik marga Hutagalung. Tahun 1970, bersama J. Aris Simanjuntak , Sintua Jafar Hutajulu membeli satu persil tanah seharga Rp 80.000 (delapan puluh ribu rupiah). Tanah itu mereka bagi dua, masing-masing mendapatkan 5 x 20 meter. Meskipun sudah memiliki tanah, tidak mudah bagi Sintua Jafar Hutajulu untuk mendirikan sebuah rumah apalagi tanah yang dibeli bagian belakang masih tanah laut sehingga dibutuhkan tanah yang banyak untuk menimbunnya. Belum lagi kebutuhan dana untuk melunasi pembelian tanah karena ketiadaan uang sebagian harus dicicil.

Ketiadaan dana membuat tanah terbengkalai. Sepulang dari mencuci pakaian di kolam, isteri dan anak-anak masing-masing wajib membawa batu air dan dikumpulkan untuk kelak digunakan membuat fundasi. Selain itu satu keluarga Mantri Hutagalung yang kebetulan tinggal di bawah gunung pulau Herek Sambas bersedia untuk menimbun tanah laut di bagian belakang. Mereka mengangkut tanah gunung dengan keranjang kira-kira beratnya sekitar 40 kg. Satu keranjang pada waktu itu dihargai sepuluh rupiah . Salah satu anak dari Mantri Hutagalung adalah Boas Hutagalung yang saat itu sedang kuliah di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Ketika liburan, Boaslah yang tidak kenal lelah dan berpeluh membawa keranjang berisi tanah gunung dan menimbun tanah milik Sintua Jafar Hutajulu. Jika ada waktu, anak-anaknya juga ikut membantu, supaya paling tidak dapat meringankan biaya dan mempercepat penimbunan selesai.

Keinginan yang kuat untuk segera memiliki rumah begitu besar sehingga Sintua Jafar Hutajulu memutuskan untuk membangun sebuah rumah. Rumah yang akan dibangun terbilang kecil karena hanya satu ruang tamu, satu kamar tidur dan satu dapur. Separuh tanah di bagian depan sementara dibiarkan menjadi halaman karena tidak ada uang untuk membangun seluruhnya. Fundasi bangunan dikerjakan oleh Ramot Simanungkalit dengan cara borongan dan bangunan rumah dikerjakan oleh Zebua dengan sistem gaji harian. Proses pembangunan rumah itu sampai selesai sungguh satu mukjizat karena setiap minggu Tuhan selalu menyediakan segala keperluan dan kebutuhan Sintua Jafar Hutajulu. Proses penyelesaian rumah yang kecil itu, memerlukan waktu hampir satu tahun.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan lazimnya dalam adat Batak bila hendak memasuki rumah baru, diadakan acara “Mangompoi Jabu” dengan mengundang Parhalado gereja dan kerabat dalihan natolu. Tidak ada keraguan sedikit pun dihati Sintua Jafar Hutajulu untuk melaksanakan acara tersebut meski rumah yang dimilikinya tergolong kecil dibanding rumah yang ada di sisi kiri dan kanan. Dirumah inilah anak-anaknya dibesarkan. Di bagian atas ada loteng sempit (jika berjalan harus merunduk) dan di loteng inilah anak-anak tidur pada malam hari. Siangnya loteng ini tidak dapat digunakan karena udaranya panas.

Beruntunglah pada waktu itu, dua anaknya, tinggal di Medan, di rumah pamannya dr. Benhard Lumbantobing, sehingga keadaan rumah tidak terlalu sesak. Putri pertama Shelly Ance Lidya Berliana Hutajulu kuliah di Akademi Bahasa Asing di jalan Jose Rizal, Medan dan Leonard sekolah di SMP IX Medan. Tiga tahun kemudian, sekitar tahun 1978, Sintua Jafar Hutajulu dapat merampungkan pembangunan rumah di atas tanah yang tersisa sehingga menjadi satu bagian rumah yang utuh.

Lepas dari persoalan rumah, Sintua Jafar Hutajulu dihadapkan kepada tantangan baru yaitu bagaimana membiayai anak-anaknya yang sudah lulus sekolah lanjutan atas ke perguruan tinggi. Minat anak-anaknya untuk kuliah begitu besar namun kemampuan financial sangat minim. Tahun 1975 selepas menyelesaikan studi di Sekolah Teknik Menengah (STM) Sibolga, putra kedua Jarels Marlen Hutajulu merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Tahun 1976, putra ketiga Leonardo Olaf Partungkolan Hutajulu menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 di Jalan Gajah Mada, Jakarta dan melanjutkan kuliah di Akademi Akuntansi YAI, Jalan Salemba, Jakarta. Sambil kuliah, Leo bekerja di Direktorat Moneter, Departemen Keuangan. Tahun 1977, putra keempat Ganda Parulian Hutajulu menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Sibolga. Karena ketiadaan biaya, Ganda harus rela membantu usaha orang tuanya sambil bekerja sebagai entertainment pada sebuah band di kota Sibolga. Ganda juga sempat menjadi karyawan pada Yayasan Usaha Karya (YUKA), Sibolga dan kemudian pada tahun 1981 ia hijrah ke Jakarta.

Menangkap Peluang dan Tetap Konsisten dengan Kualitas

Sampai tahun 80-an di Sibolga ada lebih kurang sepuluh usaha Tukang Kayu, lima usaha pertukangan diantaranya dimiliki oleh Marga Hutajulu. Sebagian besar mereka kemudian beralih profesi akibat tidak mampu bertahan dan bersaing sehubungan dengan maraknya perdagangan perabot hasil mekanisasi modern (lemari, meja, kursi, dll) yang bentuknya lebih bagus dan harga yang murah, umumnya didatangkan dari Medan.

Sambil terus mempertahankan usaha Tukang Kayu, Sintua Jafar Hutajulu mencoba menangkap peluang ikut berdagang perabot dari Medan. Dengan mendapatkan fasilitas Kredit Investasi Kecil (KIK) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sibolga, dibantu istri dan putra kelimanya, Hotma Sahala Tua Hutajulu, awal tahun 1980, Sintua Jafar Hutajulu membuka usaha perdagangan perabot di rumahnya di Jalan Horas 106 Sibolga. Hotma juga setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Sibolga tahun 1979 tidak dapat melanjutkan studi karena ketiadaan biaya. Sintua Jafar Hutajulu berjanji hanya bisa membiayai kuliahnya jika diterima di universitas negeri. Sekarang tidak hanya putranya Ganda, Hotma juga harus rela membantu orang tuanya di pertukangan kayu dan usaha perdagangan perabot yang baru dibuka dirumahnya.

Sekali dalam sebulan Hotma dan ibunya berangkat ke Medan untuk berbelanja perabot. Mereka kemudian menjual perabot tersebut di rumahnya dengan cara kredit. Usaha ini pun sempat berkembang. Sebab permintaan masyarakat sekitar cukup besar. Frekuensi belanja ke Medan pun berubah dari satu kali dalam sebulan menjadi dua kali dalam sebulan bahkan pernah satu kali dalam seminggu. Namun usaha ini tidak berlangsung lama. Bulan Juli 1980, Hotma diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Pengetahuan Masyarakat di Universitas Sumatera Utara, Medan (sekarang Fisipol). Ibunya tidak lagi mampu sendirian menjalankan usaha ini dengan baik. Selain pemberian kredit tidak selektif , cara penagihan juga terlalu lemah sehingga banyak tunggakan yang tidak bisa ditagih.

Sebelum usaha ini ditutup, Sintua Jafar Hutajulu sempat melanjutkan usaha perdagangan perabot ini di pertukangannya sendiri, di Jalan Pelabuhan, Kota Beringin, Sibolga. Usaha berdagang perabot ini juga tidak berjalan lancar sebab orang-orang yang datang ke pertukangannya biasanya lebih menginginkan perabot yang dibuat sendiri oleh Sintua Jafar Hutajulu . Perabot yang didatangkan, kualitasnya memang jelek. Sebelum dijual ke konsumen harus diperbaiki terlebih dahulu. Bahannya biasanya dari kayu sembarangan atau triplek. Cara pengerjaannya pun kasar. Berbeda dengan perabot buatan Sintua Jafar Hutajulu, dikenal luas karena kualitas yang baik dan cara penyelesaiannya yang halus dan bernuansa seni. Hanya dari segi harga pasti lebih mahal dari perabot buatan orang lain.

Sintua Jafar Hutajulu tetap konsisten dengan hasil karyanya. Dia tidak tertarik untuk mengikuti pola pengerjaan perabot yang sembarangan dan bersifat massal. Bila ada pembeli yang datang dan menginginkan perabot pada saat itu juga, dia lebih menyarankan agar orang tersebut mendatangi toko perabot. Di pertukangannya tidak tersedia perabot jadi hasil buatannya karena selain tidak sempat, lokasi usahanya juga tidak mampu menyediakan stock meskipun hanya dua atau tiga jenis perabotan. Dia hanya mengerjakan sesuai pesanan. Perabot yang dibuatnya memang berkualitas. Banyak yang mengakui meski telah puluhan tahun digunakan, perabotnya tidak rusak. Kepada konsumennya, dia senantiasa dengan terbuka dan jujur menceritakan setiap perbedaan kualitas bahan kayu yang dipakai. Beberapa kantor/instansi yang mengutamakan kualitas menjadi langganannya. Seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia 1946, Perusahaan Listrik Negara, dan Komando Resort Militer 022 Kawal Samudera.

Prinsip Tak Akan Lari Gunung Dikejar

Peluang untuk mendapatkan kerja borongan yang besar pun pernah diperoleh Sintua Jafar Hutajulu. Namun dia tidak begitu tertarik. Risiko usahanya lebih besar karena biasanya harganya tidak sesuai karena dia harus menjaga kualitas pekerjaannya sedangkan oleh pemberi kerja diminta komisi yang besar. Pola pekerjaannya pun jauh berbeda. Dia tidak tega memberikan hasil yang buruk meski kesempatan untuk mendapat untung lebih besar ada. Satu kali ia diminta untuk mengerjakan Sopo HKBP Sibolga Sambas (Gedung Serbaguna) dengan sistem borongan. Alhasil pekerjaan baru berjalan setengah, dana borongan sudah habis terpakai. Ini terjadi karena seringkali apa yang dikerjakan tukang dinilainya sama dengan waktu dia mengerjakan perabot sehingga pekerjaan harus diulang beberapa kali. Cara kerja seperti yang diinginkannya tidak bisa diterapkan untuk pekerjaan borongan. Selain memerlukan waktu yang lama, pembayaran gaji tukang akan lebih besar. Bistok Hutajulu (Kepala Seksi Pekerjaan Umum Tapanuli Tengah waktu itu) yang menjabat sebagai Ketua Pembangunan Sopo Huria mengambil alih proses penyelesaian bangunan tersebut dan tetap meminta Sintua Jafar Hutajulu untuk mengawasi pelaksanaannya.

Pada tahun 1982, putranya Sahat Parlindungan Hutajulu pun menamatkan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sibolga. Hal yang disampaikannya sama seperti apa yang diberlakukannya kepada putranya Hotma, bahwa kalau ingin kuliah harus di universitas negeri. Sahat pun harus puas membantu dia bekerja di pertukangan selama satu tahun sebelum masuk di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) di lingkungan kampus USU Medan. Menyusul putri bungsunya Rita Basaria Hutajulu juga menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Sibolga harus mengubur keinginannya untuk meneruskan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi karena terbatasnya kemampuan keuangan.

Betapa pun beratnya tantangan yang dihadapinya dia terus menempa anak-anaknya untuk hidup mandiri dan berjuang keras. Sikap kehati-hatiannya meski terkesan lamban merupakan karakter yang tidak gampang diubah oleh iming-iming dan jalan pintas penyelesaian masalah. Bukan tidak ada kesempatan dan peluang sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh teman-temannya, tapi prinsip ‘tak akan lari gunung dikejar’ seakan menjadi motto hidupnya.
Menjaga kualitas pekerjaan adalah komitmen yang terus dibangunnya. Rekan-rekannya satu profesi beberapa orang sudah menjadi kontraktor besar di Sibolga dan telah menjadi kaya raya. Beberapa orang dari mereka juga telah mengubah pola kerjanya dengan menggunakan mesin dan bertumbuh menjadi usaha yang besar. Sintua Jafar Hutajulu masih tetap dengan cara kerja yang lama. Ketekunan, Kesabaran dan tahan uji merupakan prinsip yang terus dipertahankannya dalam mengelola usahanya.

Menjadi Pelayan Tuhan Yang Baik dan Benar

Tentu saja prinsip hidup seperti itu tidak didapatkannya dalam waktu singkat. Melayani pekerjaan Tuhan dengan menjadi sintua (penatua) di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sibolga Sambas pun dilakukannya dengan sepenuh hati. Lebih dari 40 tahun, ia mengabdikan dirinya menjadi hamba-Nya. Saat-saat bertugas menjadi apapun di gereja seperti membaca pengumuman (tingting), memimpin liturgi (maragenda), dan menyampaikan khotbah (marjamita), semua dilakukannya dengan sungguh-sungguh dan persiapan diri baik secara fisik maupun rohani.

Semua perlengkapan seperti pakaian, sepatu yang digunakan untuk ke gereja setiap hari Sabtu, sudah dipersiapkan dengan rapi. Ia tidak merokok dan minum alkohol. Ia tidak pernah nongkrong di warung kopi seperti banyak kebiasaan bapak-bapak di Sibolga. Ia selalu menjadi orang pertama yang tiba di gereja meskipun tidak bertugas. Pembawaannya yang tenang, tidak banyak bicara dan seorang pendoa yang tekun sangat mendukung tugas-tugasnya sebagai seorang sintua. Ia terlibat dalam Perkumpulan Parende Ama dan istrinya Elsyeria Tobing terlibat dalam Perkumpulan Parende Ina bahkan pernah menjadi pemimpin perkumpulan tersebut. Pada masa pelayanannya di HKBP Sibolga Sambas, Sintua Jafar Hutajulu pernah menjabat sebaga Pelaksana Guru Huria (Vornganger).

Seusai bekerja, pada malam harinya ia membaca beberapa buku rohani untuk mempelengkapi dirinya dalam tugas pelayanan. Secara rutin, setiap malam, ia menyelesaikan pembukuan gereja. Ia sangat teliti dan cermat. Ia mencatat pembukuan dengan rapi dan tulisan yang baik meskipun pendidikannya hanya sampai Sekolah Rakyat (SR). Ia mempertanggungjawabkan keuangan gereja dengan baik dan benar. Itulah sebabnya pengurus gereja (parhalado) mempercayakan kepadanya jabatan Bendahara HKBP Sibolga Sambas selama lebih kurang 30 tahun.

Teladan ini jugalah yang ditanamkannya kepada anak-anaknya. Ia selalu menekankan kepada anak-anaknya agar terlibat dalam pekerjaan pelayanan Tuhan. Anak-anaknya didorong untuk ikut dalam kegiatan Naposo Bulung (NHKBP). Sebelum ibadah Minggu, ia menugaskan anak-anaknya untuk menyapu gereja, membersihkan bangku-bangku gereja, memasang mikropon, dan menulis di papan kecil nomor-nomor nyanyian yang akan dinyanyikan pada waktu ibadah. Dengan menanamkan kegiatan seperti inilah, sebagai seorang sintua, ia merasa bahwa ia dapat menjalankan tugasnya dengan benar. Sebab dia meyakini bahwa keberhasilan seorang pelayan Tuhan harus juga ditunjukkan dengan kelakuan dan sikap anak-anaknya di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Baginya seorang hamba Tuhan tidak hanya bertugas di gereja melainkan juga bertugas di tengah-tengah keluarganya.

Dalam kegiatan adat pun ia selalu tampil meskipun bukan seorang pengetua adat. Ia menghormati pelaksanaan adat dan memberikan kontribusi sesuai dengan fungsinya baik kepada teman sekerabat (dongan sabutuha), boru, dan hula-hula. Sifat kebapakannya dalam setiap hubungan dengan siapapun selalu kelihatan menonjol. Maka tidak heran jika dia diminta dan bersedia dinobatkan menjadi Bapak angkat dari dua pasangan keluarga yaitu Helena Hutajulu yang menikahi BF Tambunan dan Herawati Hutajulu yang menikahi Karamuddin Pangaribuan.

Duka Karena Hilangnya Penolong Setia

Pada tanggal 14 Oktober 1992, setelah menjalani perawatan akibat sakit, isterinya, Elsyeria Tobing, dalam usia 62 tahun pergi mendahuluinya ke Rumah Bapa di Sorga. Isak tangis seluruh anggota keluarga membahana seolah tidak percaya atas apa yang mereka alami. Seorang ibu yang baik, penuh perhatian dan penuh kasih sayang . Tuhan sudah memanggilnya untuk pulang ke rumah-Nya, Sintua Jafar Hutajulu merasa kehilangan besar. Sebab selain sebagai seorang ibu bagi ke tujuh putra-putrinya, Elsye adalah seorang istri yang penuh perhatian, penolong yang setia dan bijak dalam bertindak. Pada hari-hari itu kedukaan begitu menyergap dihatinya. Pada saat istrinya meninggal, tiga orang putranya masih belum berumah tangga.

Tidak baik seorang diri, mungkin itu yang selalu terbersit dibenaknya. Dalam hidup ada perjuangan. Tuhan masih mempercayakan kehidupan untuk dapat diisi dengan hal-hal yang baik. Setelah menduda selama dua tahun, Sintua Jafar Hutajulu menikah dengan Lam Ratna Tobing yang juga merupakan kerabat keluarga.

Hidup harus berlangsung terus selama Tuhan masih memberikan nafas kehidupan. Menjalankan usaha pertukangannya serta melayani pekerjaan Tuhan dengan baik dan benar adalah dua kegiatan yang terus dilakukannya. Tuhan masih memberikan kekuatan fisik kepadanya. Dengan semangat yang tinggi dan dengan sisa-sisa kekuatannya yang ada, ia masih terus bekerja meskipun tidak seperti dulu. Ia masih mampu membiayai dirinya sendiri meski anak-anaknya sudah meminta agar ia menghentikan pekerjaannya. Sampai usia 75 tahun akibat fisik yang semakin menurun dan penglihatan yang sudah mulai berkurang, dia akhirnya harus menghentikan usahanya. Demikian juga tugas dan pelayanannya di HKBP Sibolga Sambas harus berakhir sesuai dengan aturan karena usia yang sudah lanjut.

Mengakhiri Pertandingan Dengan Baik

Setelah tidak lagi bekerja, fisiknya semakin lama semakin menurun. Ingatannya pun mulai menurun. Tidak ada penyakit akut yang dideteksi pada tubuhnya. Proses alami ketuaan harus dihadapinya. Satu per satu teman sebayanya juga sudah pergi meninggalkan dia. Dalam hitungan bulan, sebelum ia kembali kepada pencipta-Nya, ia sudah tidak berniat untuk bangun dari tempat tidurnya. Sampai pada hari kemenangannya, dalam usia menjelang 80 tahun, Jumat, 5 Juni 2009, pukul 17.05 dengan tenang, Sintua Jafar Hutajulu pergi meninggalkan orang-orang yang dikasihinya menuju tempat kediaman yang telah Tuhan sediakan baginya.

Selamat jalan sintua yang baik. Engkau telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Engkau telah mencapai garis akhir. Bagimu telah tersedia mahkota kehidupan.

Keturunan Sintua Jafar Hutajulu/Elsyeria Tobing (Ompu Ester)

1. Shelly Ance Lidya Berliana Hutajulu/Sukiman Lumbangaol (Tangerang)
2. Jarels Marlen Hutajulu/Erita Dame Ina Tobing (Tangerang)
3. Leonardo Olaf Partungkolan Hutajulu,SE/Reri Istipurwanti (Bogor)
4. Ganda Parulian Hutajulu/Evi Herawati (Jakarta)
5. Drs. Hotma Sahala Tua Hutajulu/Dra. Adriana Febrina Gunarti Ritonga (Tangerang)
6. Sahat Parlindungan Hutajulu,SKM/Sri Maryati (Sibolga)
7. Rita Basaria Hutajulu/Sabaranda Gultom (Sibolga)
8. Helena Hutajulu/BF Tambunan (Medan)
9. Herawati Hutajulu/Karamuddin Pangaribuan (Palangkaraya)

Sumber : hutajulufamily.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar